PENGANTAR TEKNOLOGI SISTEM CERDAS

DISUSUN OLEH
CLAUDYA TUPAMAHU
11115533
11115533
3KA12
PEMBELAJARAN
DENGAN PENGAMATAN ( OBSERVASI )
Metode
Observasi ialah pengamatan langsung menggunakan alat indera atau alat
bantu untuk penginderaan suatu subjek atau objek. Observasi juga merupakan
basis sains yang dilakukan dengan menggunakan panca indera atau instrument
sebagai alat bantu penginderaan ( Purnomo, 2008).
1.
Penggunaan Metode Observasi
a.
Melatih siswa untuk peka terhadap peristiwa atau gejala yang terjadi dalam
lingkungannya.
b.
Melatih siswa untuk mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan nilai-nilai
moral yang diperoleh di kelas.
c.
Memperluas cakrawala siswa mengenai nilai-nilai moral atau ilmu pengetahuan
yang diperoleh didalam kelas dipadukan dengan kenyataan.
2. Tujuan
Metode Observasi
a. Untuk
memperoleh data atau fakta.
b. Untuk
melihat, mengamati dan menghayatinya secara langsung dan nyata mengenai objek
tertentu.
c. Untuk
memperoleh kesimpulan dari hasil observasi yang dilakukan peneliti.
3.
Langkah-langkah Metode Observasi
a.
Melakukan pengamatan
b.
Mengumpulkan data (inventarisasi data)
c.
Analisis, interpretasi, dan evaluasi data
d.
Penarikan kesimpulan
e.
Penyusunan laporan (Purnomo, 2008)
4.
Kelebihan Metode Observasi
a. Metode
observasi sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu siswa sehingga
proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.
b.
Menyajikan media obyek secara nyata tanpa manipulasi.
c. Mudah
pelaksanaanya.
d. Siswa
akan merasa tertantang.
e. Siswa
akan memiliki motivasi belajar yang tinggi.
f.
Memungkinkan pengembangan sifat ilmiah dan menimbulkan semangat ingin tahu
siswa.
5.
Kelemahan Metode Observasi
a.
Memerlukan waktu persiapan yang lama.
b.
Memerlukan biaya dan tenaga yang lebih besar dalam pelaksanaannya.
c. Obyek
yang diobservasi akan menjadi sangat kompleks ketika diknjungi dan mengaburkan
tujuan pembelajaran
6. Hubungan
antara Metode Observasi dengan Prestasi Siswa
Metode
observasi merupakan cara belajar mengajar yang dipandang mudah dalam proses
belajar mengajar karena pada metode observasi ini akan melatih siswa untuk peka
atau gejala yang terjadi dilingkungannya, selain itu juga dapat melatih siswa
kritis dalam mengambil keputusan yang tepat serta akan memperluas cakrawala
siswa dalam pengetahuan dan wawasan.
Jadi
hubungannya dengan prestasi adalah ketika siswa peka dengan gejala sekitar,
kritis dalam mengambil keputusan yang tepat dan bisa memperluas cakrawala dalam
pengetahuan dan wawasan, maka factor-faktor tadi akan memotivasi siswa dalam
berprestasi.
BENTUK PEMBELAJARAN
Proses
belajar memerlukan metode metode khusus yang jelas untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang efektif dan efisien. Metodologi pembelajaran merupakan cara
cara dalam melakukan aktivitas antara pendidik dan peserta didik ketika
berinteraksi dalam proses belajar. Pendidik perlu mengetahui dan mempelajari
metode pengajaran agar dapat menyampaian materi dan dimengerti dengan baik oleh
peserta didik. Metode pengajaran dipraktekkan pada saat mengajar dan dibuat
semenarik mungkin agar peserta didik mendapat pengetahuan dengan efektif dan
efisien. Berikut ini metode metode pengajaran dalam proses belajar:
1. Metode Konvensional/ metode ceramah
Metode
pengajaran dengan cara berceramah atau menyampaikan informasi secara lisan
kepada siswa. Metode ini merupakan metode yang paling praktis dan ekonomis,
tidak membutuhkan banyak alat bantu. Metode ini mampu digunakan untuk mengatasi
kelangkaan literatur atau sumber rujukan informasi karena daya beli siswa yang
diluar jangkauan. Namun metode ini juga memiliki beberapa kelemahan dan
kelebihan.
2. Metode Diskusi
Metode
diskusi merupakan metode pengajaran yang erat hubungannya dengan belajar
pemecahan masalah. Metode ini juga biasa dilakukan secara berkelompok atau
diskusi kelompok.
3. Metode Demostrasi
Metode
demonstrasi digunakan pada pengajaran dengan proses yaitu menggunakan benda
atau bahan ajar pada saat pengajaran. Bahan ajar akan memberikan pandangan
secara nyata terhadap apa yang akan dipelajari, bisa juga melalui bentuk
praktikum. Metode demonstrasi ini memiliki manfaat antara lain siswa jadi lebih
tertarik dengan apa yang diajarkan, siswa lebih fokus dan terarah pada materi,
pengalaman terhadap pengajaran lebih diingat dengan baik oleh siswa.
4. Metode Ceramah Plus
Metode
ceramah plus yaitu sistem pengajaran dengan menggunakan ceramah lisan dan
disertai metode lainnya. Metode mengajar ini menggunakan lebih dari satu
metode. Misalnya:
- Metode ceramah plus tanya jawab: Metode ini secara ideal disertai dengan penyampaian materi dari guru, pemberian peluang pada siswa untuk bertanya apa yang tidak dimengerti, dan pemberian tugas di akhir pengajaran.
- Metode ceramah plus diskusi dan tugas: Metode ini dilakukan dengan memberikan materi secara lisan kemudian disertai dengan diskusi dan pemberian tugas di akhir sesi.
- Metode ceramah plus demonstrasikan dan latihan: Metode ini merupakan gabungan dari penyampaian materi dengan memperagakan atau latihan atau percobaan.
5. Metode Resitasi
Metode
resitasi merupakan metode mengajar dengan siswa diharuskan membuat resume
tentang materi yang sudah disampaiakan guru, dengan menuliskannya pada kertas
dan menggunakan bahasa sendiri.
6. Metode Percobaan
Metode
percobaan merupakan metode pengajaran dengan menggunakan action berupa
praktikum atau percobaan lab. Masing masing siswa dengan ini mampu melihat
proses dengan nyata dan belajar secara langsung.
7. Metode Karya Wisata
Metode
karya wisata adalah suatu metode mengajar dengan memanfaatkan lingkungan, lokasi,
atau tempat- tempat yang memiliki sumber pengetahuan bagi siswa. Metode
mengajar ini dilakukan dengan pendampingan oleh guru ataupun orang tua jika
usianya masih terlalu muda. Pendampingan dilakukan untuk menunjukkan sumber
pengetahuan yang perlu dipahami oleh siswa. Metode karya wisata ini bisa
dilakukan di tempat tempat sejarah, di alam, atau lainnya.
8. Metode Latihan Keterampilan
Metode
latihan keterampilan ini merupakan metode mengajar dengan melatih keterampilan
siswa atau soft skill dengan cara membuat, merancang, atau memanfaatkan
sesuatu. Metode ini membutuhkan kreativitas siswa yang tinggi
denganmemanfaatkan suatu bahan menjadi barang yang lebih berguna dan
bermanfaat.
9. Metode Pemecahan Masalah (Problem Based
Learning)
Metode
PBL ini dilakukan dalam kelas kecil, siswa diberikan kasus untuk menstimulasi
diskusi kelompok. Kemudian siswa mengutarakan hasil pencarian materi terkait
kasus dan didiskusikan dalam kelompok.
10. Metode Perancangan
Metode
perancangan merupakan metode mengajar dengan merangsang siswa untuk mampu
menciptakan atau membuat suatu proyek ayang akan dipraktekkan atau akan
diteliti.
11. Metode Discovery
Metode
discovery merupakan metode pengajaran modern yang dilakukan dengan cara
mengembangkan cara belajar siswa menjadi lebih aktif, mandiri, dan pemahaman
yang lebih baik. Siswa mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, sehingga
dapat diingat lebih baik. Strategi ini dinamakan strategi penemuan. Siswa
menjadi lebih aktif mencari, memahami, dan menemukan jawaban atau materi
terkait. Siswa juga mampu menganalisa pengetahuan yang diperolehnya kemudian
ditransfer kepada masyarakat.
12. Metode Inquiry
Metode
inquiry merupakan metode yang mampu membangun siswa untuk menyadari apa yang
dia dapatkan selama belajar. Guru tetap memiliki peranan penting dalam metode
ini yaitu dengan membuat design pengalaman belajar. Inquiry memiliki arti
memahami apa yang telah dilalui. Metode ini melibatkan intelektual dan menuntut
siswa memahami apa yang mereka pelajari sebagai sesuatu yang berharga.
13. Mind Mapping
Mind
mapping adalah metode belajar dengan menerapkan cara berfikir runtun terhadap
suatu permasalahan bagaimana bisa terjadi sampai pada penyelesaiannya.
Pengajaran melalui mind mapping disajikan dalam bentuk skema yang memiliki
hubungan sebab akibat dan saling berpengaruh. Metode belajar dengan mind
mapping ini mampu meningkatkan analisis dan berfikir kritis siswa sehingga
memahami sesuatu secara keseluruhan dari awal sampai akhir.
14. Role Playing/ Berbagi peran
Metode
pembelajaran dengan role playing yaitu dengan metode drama atau peran. Metode
ini dengan melibatkan siswa dalam berakting sebagai suatu karakter dalam suatu
situasi tertentu dan menunjukkan respon yang seharusnya dilakukan. Pembelajaran
melalui role playing ini melatih interaksi dan mengekspresikan diri secara
nyata sebagai contoh atas kejadian yang sebenarnya. Hal ini juga bisa digunakan
untuk latihan komunikasi yang baik, atau interaksi dengan orang lain atau
klien.
15. Cooperative Script
Skrip
kooperatif merupakan metode belajar dengan memasangkan siswa dan secara lisan
menuntut siswa untuk mengutarakan intisari dari bagian materi yang disampaikan.
Pertama, guru membagi siswa untuk berpasangan, guru membagikan materi pada
siswa dan membuat ringkasan, guru menentukan siapa yang akan menjadi pembicara
dan pendengar. Pembicara membacarakan ringkasannya sebaik mungkin dengan mengutarakan
ide ide pokok materi, kemudian bertukar peran antara pembicara dan
pendengar. Guru pada akhir sesi memberikan kesimpulan.
16. Debat
Debat
merupakan metode pembelajaran dengan mengadu argumentadi antara dua pihak atau
lebih baik perorangan maupun kelompok. Argumentasi yang dilakukan membahas
tentang penyelesaian suatu permasalahan dan memberi keputusan terhadap masalah.
Debat pada umumnya dilakukan secara formal dengan bahasa bahasa formal dan cara
cara tertentu yang sopan. Terdapat aturan aturan dalam debat informasikan yang
disajikan harus memuat data yang relevan dan berisi.
17.
Metode Mengajar Beregu (Team Teaching Method)
Metode
mengajar ini dilakukan oleh lebih dari satu pengajar, materi diberikan dengan
jadwal yang berbeda oleh beberapa pengajar. Soal ujian dibuat oleh beberapa
pengajar dan disatukan. Pengajar membuat soal dengan menggunakan poin poin
capaian yang sudah dibuat sehingga jelas.
18.
Metode Mengajar Sesama Teman (Peer Teaching Method)
Metode
mengajar ini dilakukan dengan cara berdiskusi, atau juga dengan presentasihasil
diskusi. Kelompok menyampaikan materi hasil diskusi dan memberi kesempatan pada
teman- temannya untuk bertanya. Kelompok menjawab setiap pertanyaan.
19.
Metode Bagian (Teileren method)
Metode
pengajaran ini dilakukan denganmemberikan materi sebagian sebagian, misalnya
belajar ayat. Pengajaran dimulai dari ayat per ayat yang kemudian disambung
lagi dengan ayat lain.
20.
Metode Global
Metode
global ini mengajarkan pada siswa keseluruhan materi, kemudian siswa membuat
resume tentang materi tersebut yang mereka serap dan diambil intisarinya.
PEMBELAJARAN
INDUKTIF
Pembelajaran induktif adalah
sebuah pembelajaran yang bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu
siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir
kritis. Model pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang bersifat
langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan
berpikir tingkat tinggi dan keterampilan berpikir kritis. Pada model
pembelajaran induktif guru langsung memberikan presentasi informasi-informasi
yang akan memberikan ilustrasi-ilustrasi tentang topik yang akan dipelajari
siswa, selanjutnya guru membimbing siswa untuk menemukan pola-pola tertentu
dari ilustrasi-ilustrasi yang diberikan. Model pembelajaran induktif dirancang
berlandaskan teori konstruktivisme dalam belajar. Model ini membutuhkan guru
yang terampil dalam bertanya (questioning) dalam penerapannya. Melalui
pertanyaan-pertanyaan inilah guru akan membimbing siswa membangun pemahaman terhadap
materi pelajaran dengan cara berpikir dan membangun ide. Tingkat keefektifan
model pembelajaran induktif ini, jadinya-sangat tergantung pada keterampilan
guru dalam bertanya dan mengarahkan pembelajaran, dimana guru harus menjadi
pembimbing yang akan untuk membuat siswa berpikir.
Struktur sosial dalam pembelajaran menjadi ciri lingkungan kelas yang sangat dibutuhkan untuk belajar melalui model pembelajaran induktif. Model pembelajaran induktif mensyaratkan sebuah lingkungan belajar yang mana di dalamnya siswa merasa bebas dan terlepas dari resiko takut dan malu saat memberikan pendapat, bertanya, membuat konklusi dan jawaban. Mereka harus bebas dari kritik tajam yang dapat menjatuhkan semangat belajar.
Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir dapat diajarkan
2. Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam seting kelas, bahan-bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu.
Struktur sosial dalam pembelajaran menjadi ciri lingkungan kelas yang sangat dibutuhkan untuk belajar melalui model pembelajaran induktif. Model pembelajaran induktif mensyaratkan sebuah lingkungan belajar yang mana di dalamnya siswa merasa bebas dan terlepas dari resiko takut dan malu saat memberikan pendapat, bertanya, membuat konklusi dan jawaban. Mereka harus bebas dari kritik tajam yang dapat menjatuhkan semangat belajar.
Model ini dikembangkan atas dasar beberapa postulat sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir dapat diajarkan
2. Berpikir merupakan suatu transaksi aktif antara individu dengan data. Artinya, dalam seting kelas, bahan-bahan ajar merupakan sarana bagi siswa untuk mengembangkan operasi kognitif tertentu.
Dalam seting tersebut, dimana
siswa belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem konsep,yaitu:
- Saling menghubung-hubungkan data yang diperoleh satu sama lain serta membuat kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan tersebut
- Menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang telah diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis,dan
- Memprediksi dan menjelaskan suatu fenomena tertentu. Guru, dalam hal ini, dapat membantu proses internalisasi dan konseptualisasi berdasarkan informasi tersebut
3. Proses berpikir merupakan suatu urutan tahapan yang beraturan (lawful). Artinya, agar dapat menguasai keterampilan berpikir tertentu, prasyarat tertentu harus dikuasai terlebih dahulu, dan urutan tahapan ini tidak bisa dibalik. Oleh karenanya, konsep tahapan beraturan ini memerlukan strategi mengajar tertentu agar dapat mengendalikan tahapan-tahapan tersebut.
Berpikir
induktif melibatkan tiga tahapan yang dikembangkan tiga strategi cara
mengajarkannya.
a. Konsep
pembentukan (belajar konsep)
Tahap ini mencakup tiga langkah utama: item daftar (lembar, konsep), kelompok barang yang sama secara bersama-sama, beserta label tersebut (dengan nama konsep).
Langkah-langkah :
1. Membuat daftar konsep
2. Pengelompokkan konsep berdasarkan karakteristik yang sama
3. Pemberian label atau kategorisasi
Tahap ini mencakup tiga langkah utama: item daftar (lembar, konsep), kelompok barang yang sama secara bersama-sama, beserta label tersebut (dengan nama konsep).
Langkah-langkah :
1. Membuat daftar konsep
2. Pengelompokkan konsep berdasarkan karakteristik yang sama
3. Pemberian label atau kategorisasi
b.
Interpretasi data Strategi
Keduanya merupakan cara mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Langkah-langkah:
1. mengidentifikasi dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya.
2. menjelaskan dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya
3. Membuat kesimpulan
Keduanya merupakan cara mengajarkan bagaimana menginterpretasi dan menyimpulkan data. Sama halnya dengan strategi pertama (pembentukan konsep), cara ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu.
Langkah-langkah:
1. mengidentifikasi dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya.
2. menjelaskan dimensi-dimensi danhubungan-hubungannya
3. Membuat kesimpulan
c.
Penerapan prinsip-prinsip
Strategi ini merupakan kelanjutan dari strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam suatu situasi permasalahan yang berbeda. Atau siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip untuk menjelaskan suatu fenomena baru.
Langkah-Langkah:
1. Membuat hipotesis, memprediksikonsekuensi
2. Menjelaskan teori yang mendukung hipotesis atau prediksi.
3. Menguji hipotesis/prediksi
Strategi ini merupakan kelanjutan dari strategi pertama dan kedua. Setelah siswa dapat merumuskan suatu konsep, menginterpretasikan dan menyimpulkan data, selanjutnya mereka diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip tertentu ke dalam suatu situasi permasalahan yang berbeda. Atau siswa diharapkan dapat menerapkan suatu prinsip untuk menjelaskan suatu fenomena baru.
Langkah-Langkah:
1. Membuat hipotesis, memprediksikonsekuensi
2. Menjelaskan teori yang mendukung hipotesis atau prediksi.
3. Menguji hipotesis/prediksi
Pembelajaran Pohon
Keputusan (Decision Tree)
Pembejalaran
pohon keputusan adalah suatu metode untuk memperkirakan fungsi target bernilai
diskrit, yang mana fungsi pembelajaran direpresentasikan oleh sebuah pohon
keputusan.
Secara umum, pohon keputusan merepresentasikan
sebuah disjungsi dari beberapa konjungsi dari beberapa batasan pada nilai
atribut dan instansi.
Setiap path
dari root pada pohon sampai ke leaf merupakan konjungsi dari
atribut pengujian, dan pohon itu sendiri adalah sebuah disjungsi dari beberapa
konjungsi tersebut. Sebagai contohnya, pohon keputusan di atas berkorespondensi
dengan ekspresi berikut,
(Outlook = Sunny ^ Humidity = Normal)
v (Outlook = Overcast)
v (Outlook = Rain ^ Wind = Weak)
Secara
umum pembelajaran pohon keputusan cocok untuk permasalahan dengan karakteristik
sebagai berikut,
- Instansi (permasalahan) direpresentasikan dengan pasangan atribut-nilai. Instansi ini dijelaskan dengan sejumlah atribut yang tetap, misalnya atribut Temperatur dengan nilai Panas, Sedang, Dingin.
- Fungsi target memiliki nilai keluaran diskrit. Setiap sampel memiliki klasifikasi binari atau lebih, misalnya Ya atau Tidak; namun metode ini bisa dikembangkan dengan nilai keluaran yang lebih dari dua.
- Deskripsi disjungtif (pemisah) mungkin diperlukan.
- Data latihan bisa mengandung kesalahan. Metode pembelajaran pohon keputusan bisa memiliki kesalahan, baik kesalahan dari klasifikasi pada sampel pembelajaran dan kesalahan dalam nilai atribut dari sampel.
- Data latihan bisa tidak memiliki nilai atribut.
Permasalahan
klasifikasi yaitu
pekerjaan mengklasifikasi sampel menjadi salah satu dari sekumpulan kemungkinan
kategori diskrit.
Kebanyakan
algoritma untuk pembelajaran pohon keputusan adalah variasi dari algoritma
intinya yang menggunakan pencarian rakus (greedy) dari atas ke bawah
terhadap ruang kemungkinan pohon keputusan. Salah satu algoritmanya yaitu ID3.
Langkah-langkah
yang dilakukan yaitu,
- Tentukan atribut terbaik untuk root dari tree. Setiap instan dari atribut dievaluasi menggunakan sebuah tes statistik untuk menentukan seberapa bagus atribut tersebut mengklasifikasi sampel latihan.
- Turunan dari node root dibuat untuk setiap kemungkinan nilai dari atribut
- Sampel latihan kemudian diurutkan berdasarkan node turunan.
- Seluruh proses kemudian diulang menggunakan sampel latihan yang berhubungan dengan setiap node turunan untuk menentukan atribut terbaik untuk dites di pohon.
Untuk
menentukan atribut terbaik caranya dengan menggunakan properti statistik yang
disebut information gain, yang mengukur seberapa bagus atribut
tersebut memisahkan sampel latihan menurut klasifikasi targetnya.
Untuk
menentukan information gain secara tepat, dimulai dengan menentukan
sebuah ukuran, dalam teori informasi disebut entropi, yang
mengkarakterisasikan kemurnian/ketakmurnian dari sebuah koleksi acak dari
sampel.
Dengan
sebuah koleksi S, yang berisi sampel positif dan negatif dari target, entropi
dari S relatif terhadap klasifikasi boolean adalah,
Entropi(S) = - P(+) log2 P(+) - P(-) log2
P(-)
yang mana,
- P(+) adalah proporsi sampel positif dalam S.
- P(-) adalah proporsi sampel negatif dalam S.
- Dalam semua penghitungan mengikutkan entropi ditentukan bahwa 0 * log2 0 adalah 0.
Jika
atribut target bisa memiliki c kemungkinan nilai yang berbeda, maka
entropi dari S terhadap klasifikasi c ditentukan dengan,
yang mana
pi adalah proporsi klas i terhadap S.
Dari
nilai entropi kemudian dapat dihitung information gain, Gain(S, A)
dari sebuah atribut A relatif terhadap kumpulan sampel S, dengan cara
berikut,
yang
mana,
- Values(A) adalah set dari semua kemungkinan nilai untuk atribut A,
- Sv adalah subset dari S yang mana atribut A memiliki nilai v.
PEMBELAJARAN
ENSEMBLE
Metode ensemble menggabungkan beberapa model, dalam
penelitian ini adalah model klasifikasi, untuk mendapatkan prediksi kinerja
yang lebih baik daripada menggunakan satu model saja. Langkah yang dilakukan
adalah menghitung tingkat kemiripan antara dokumen acuan dan dokumen testing
yang diangap plagiat. Hasil dari serangkaian similarity testing akan digunakan
sebagai input untuk training dan validasi terhadap model klasifikasi. Training
dan validasi tersebut akan dilakukan dengan menggunakan beberapa algoritma
klasifikasi. Hasil dari beberapa algoritma tersebut akan digabungkan dengan
metoda ensemble untuk mendapatkan kinerja yang lebih baik
SUMBER :
·
Tidak ada komentar:
Posting Komentar